Introvert: Si Makhluk Malang

Saya payah. Itu yang pertama kali saya sadari begitu mulai memasuki masa SMA. Saat itu saya baru saja melepas sikap kekanak-kanakan saya saat SMP dan berjanji untuk menjadi diri saya yang sebenarnya. Keputusan yang salah, karena saya sangat-sangat kecewa begitu mengetahui bahwa diri saya yang sebenarnya adalah orang payah, dan saya menjadi ketakutan karenanya.

Hari itu saya menemukan diri saya yang tidak pandai berbicara, merasa mual di keramaian, dan gugup setengah mati saat harus berbicara di depan banyak orang (teman-teman saya sekalipun). Saat diskusi kelompok, otak saya dipenuhi dengan kata-kata dan ide-ide yang sama sekali tak bisa saya utarakan. Sementara teman-teman yang lain sibuk berbicara dan saling menyela, saya hanya akan diam dengan sedikit gemas. Karena hal itu, saya menjadi sedikit takut. Masa depan macam apa yang akan saya hadapi nanti jika saya terus seperti siput penakut diantara para kepiting yang saling mencapit?

Akhirnya saya mulai mencari jalan keluar, bertanya pada internet tentang apa yang salah pada diri saya. Saya mencari segala karakter yang identik dengan yang saya miliki, dan yang saya temukan cukup membuat saya terkejut. Bukan, ternyata saya bukan orang payah, saya hanya seorang introvert.

Kalau begitu, introvert adalah sikap orang-orang payah? Orang-orang yang tersisih karena hidupnya yang terlihat malang? Tidak tidak, introvert adalah salah satu bentuk tempramen seseorang yang diturunkan secara genetis, tidak mungkin Tuhan sengaja menciptakan orang payah dan selamanya akan payah karena memang sudah tercipta begitu.  Introvert orang yang menutup diri, tapi bukan berarti ia pemalu. Jangan menyamakan introvert dengan pemalu karena pemalu adalah sikap kurangnya rasa percaya diri, bukan orang yang menutup diri. Kebalikan dari introvert adalah ekstrovert, yaitu orang yang lebih membuka diri.

Saya bukan satu-satunya introvert yang merasa terlahir sebagai orang malang di dunia ini, sekitar 25% penduduk bumi adalah introvert, sementara sisanya adalah ekstrovert . Menjadi minoritas memang sulit. Dunia pendidikan dan dunia kerja saat ini lebih condong dibuat untuk para ekstrovert. Karena itulah, para introvert menjadi kurang berkembang dan lambat laun tersisih. Hingga akhirnya, introvert lebih dikategorikan sebagai sifat negatif dan sangat tidak menguntungkan. Padahal, kami menjalani hidup sama seperti para ekstrovert, hanya saja dengan cara yang berbeda. Dalam bersosialisasi, ekstrovert lebih senang membicarakan hal-hal luas dengan banyak orang sementara introvert menyukai pembicaraan yang dalam dengan satu atau dua orang saja. Dalam mengumpulkan energi, ekstrovert senang melakukan aktivitas di luar sementara introvert lebih menikmati waktu sendiri.

Menjadi introvert memang penuh tantangan. Kami sulit bertahan di dunia ekstrovert, namun sebenarnya sangat bisa bersaing dengan para ekstrovert jika saja kita mengerti cara mengendalikan ke-introvert-an kita. Jangan pernah mencoba untuk berubah menjadi seorang ekstrovert untuk bersaing (believe me, I’ve tried and it such a huge mistake 😦 ), tapi cobalah untuk bersaing ala introvert. (Saya merekomendasikan buku karya Marti Olsen, “Introvert Advantage” untuk mengetahui cara berkembang di dunia ekstrover)

So, setelah saya tahu bahwa saya introvert, saya mulai mencoba memahami diri saya kembali. Saya mulai berhenti memaksakan aktivitas-aktivitas luar yang menguras energi, saya mencoba menikmati waktu tenang, dan saya tidak mendorong diri saya untuk berkumpul bersama orang banyak lagi. Meski masih sulit mengontrol rasa gugup di depan orang banyak, tapi saya mulai berusaha merangkak sedikit-sedikit untuk mendapat kedudukan setara dengan para ekstrovert.

Mungkin bagi sebagian orang introvert terlihat seperti para pecundang yang selalu bersembunyi di rumah siputnya, tapi sebenarnya kami hanya sedang menikmati hidup dengan cara kami sendiri. Dan untuk para introvert, jangan pernah berkecil hati dan merasa tersisih di antara para ekstrovert. Karena kita berbeda bukan karena kita orang-orang aneh, tapi kita adalah orang-orang dengan kekuatan yang terpendam 🙂 (hanya perlu sedikit usaha untuk menggalinya kok 😉 )

Satu yang saya tekankan: Jangan pernah berusaha menjadi ekstrovert. Kamu adalah kamu dan kamu harus merayakan keuntungan itu.

Advertisements

2 thoughts on “Introvert: Si Makhluk Malang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s