Bukan Salahmu, Tapi Aku yang Bodoh

Hari ini, lampuku meredup lagi. Meratapi sesuatu yang paling benci kuratapi. Menyesali sesuatu yang paling benci kusesali. Bukan, bukan kau yang pergi dengan mudahnya sampai tak ada sisa untuk kupegangi. Tapi aku. Aku yang menunggu dengan bodohnya sampai tak ada hati untuk pergi.

Aku selalu berpikir, kaulah sepasang sayap yang kucari. Kaulah yang tepat. Ini dia. Setiap hari, selalu begitu. Ini dia, ini dia, ini dia. Kau selalu meyakinkanku bahwa kau adalah satu-satunya yang bisa membawaku terbang dari cacatnya pergelangan kakiku, kau adalah satu-satunya orang yang mengerti setiap desiran darahku, dan hanya kaulah yang baik untukku. Gilanya aku, bodohnya aku, yang jatuh terperdaya dengan manis pada kata-katamu.

Kepada sesuatu yang kupikir akan selalu disini, kepada sesuatu yang kupikir takkan tega membuatku sendiri, kepada sesuatu yang kupikir peduli padaku sampai akhir nanti.. Selamat tinggal.

Dan, oh ya. Tenang saja, aku tidak menyalahkanmu atas semua ini. Karena, ini bukan salahmu. Tapi, aku yang bodoh.

Senin, 5 Mei 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s