Aku Adalah Sisa Dirimu

Saat itu, kututup pintu rapat-rapat

Agar kau tak tahu aku sedang bersembunyi

Sembunyi dari tajamnya bebatuan,

Dan bekunya air di matamu

Saat itu, aku mengintip dari celah sempit

Karena kau menjejak kerasnya batas

Lalu matamu mulai menari di atasnya

Sementara tanganku kian erat berpegangan

Namun, cemasku berujung sia-sia

Gilanya aku yang begitu lemah

Tertahan sedikit, lalu mulai terbuai

Pada sepasang sorot yang merayu

Duhai, naiflah aku

Terkutuklah aku yang cepat terjatuh

Meski kita masih melayang pada kehampaan

Dimana kita enggan menyentuh

Dan setelah segala sesuatunya usai,

Akulah yang tersisa

Mematung pada ambang pintu

Mengharap bayangmu pada senja yang semakin meredup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s